Tata Cara Menguburkan dan Membawa Jenazah

Tulisan ini hanya ringkasan dan tidak memuat dalil-dalil semua permasalahan secara terperinci. Maka barangsiapa di antara pembaca yang ingin mengetahui dalil-dalil setiap pembahasan dipersilahkan membaca kitab aslinya “Ahkaamul Janaaiz wa Bid’ihaa” karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah

MENGKAFANI MAYIT
1. Setelah selesai memandikan mayat, maka harus dikafani.
2. Kain kafan serta biayanya diambil berasal dari harta si mayit sendiri, meskipun hartanya hingga habis, tidak ada yang tertinggal lagi.
3. Seharusnya kain kafan menutupi semua bagian tubuhnya.
4. Jika misalnya kain kafan tidak mencukupi semua tubuhnya, maka diutamakan menutupi kepalanya hingga ke {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} tubuhnya, adapun yang tetap terbuka maka ditutupi bersama daun-daunan yang wangi. (Hal yang layaknya ini jarang berjalan pada zaman kami sekarang ini, tapi ini adalah hukum syar’i).
5. Jika kain kafan kurang, saat jumlah mayat banyak, maka boleh mengkafani mereka secara massal di dalam satu kafan, yaitu bersama langkah mebagi-bagi jumlah spesifik di kalangan mereka bersama mendahulukan orang-orang yang lebih banyak memahami dan menghafal Al-Qur’an ke arah kiblat
6. Tidak boleh terhubung pakaian orang yang mati syahid yang dipakainya sewaktu mati, ia dikuburkan bersama pakaian yang dipakai syahid.
7. Dianjurkan mengkafani orang yang mati syahid bersama selembar kain kafan atau lebih di atas pakaian yang tengah di pakai
8. Orang yang mati di dalam kondisi berihram dikafani bersama ke dua pakaian ihram yang tengah dipakainya
9. Hal-hal yang direkomendasikan di dalam pemanfaatan kain kafan :
• Warna putih
• Menyiapkan tiga lembar
• Satu diantaranya bergaris-garis (Ini tidak bertentangan bersama bagian (a) karena dua perihal : – Pada biasanya kain putih bergaris-garis putih, – Di antara ketiga lembar kafan tadi, satu yang bergaris-garis tetapi yang lainnya putih
• Memberikan minyak wangi tiga kali.
10. Tidak boleh berfoya-foya di dalam pemakain kain kafan, dan tidak boleh lebih berasal dari tiga lembar, karena perihal itu menyalahi langkah kafan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan terlebih kembali kelakuan itu dianggap menyia-nyiakan harta
11. Dalam langkah mengkafani tadi, mengkafani wanita sama caranya bersama mengkafani pria karena tidak terdapatnya dalil yang menyatakan perbedaan itu.

MEMBAWA JENAZAH SERTA MENGANTARNYA
1. Wajib membawa jenazah dan mengantarnya, karena perihal itu adalah hak seorang muslim yang mati pada kaum muslimin yang lain.
2. Mengikuti jenazah ada dua step :
• Mengikuti berasal dari keluarganya hingga dishalati
• Mengikuti berasal dari keluarganya hingga selesai penguburannya, dan inilah yang lebih utama
3. Mengikuti jenazah cuma dibolehkan bagi laki-laki, tidak dibolehkan bagi wanita, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang wanita ikuti jenazah.
4. Tidak dibolehkan ikuti jenazah bersama cara-cara sambil menangis, begitu pula membawa minyak wangi dan sebagainya. (Termasuk di dalam kategori ini amalan orang awam sambil membaca : “Wahhiduul -Ilaaha” atau model dzikir-dzikir lainnya yang dibuat-buat.
5. Harus cepat-cepat di dalam membawa jenazah di dalam arti tidak berlari-lari.
6. Boleh berjalan di depan jenazah, di belakangnya (ini yang lebih afdhal), boleh juga di samping kanannya atau kirinya bersama posisi dekat bersama jenazah, jika yang berkendaraan maka ikuti berasal dari belakang. (Perlu diketahui bahwa berjalan lebih afdhal berasal dari pada berkendaraan).
7. Boleh pulang berkendaraan setelah menguburkan mayat, tida makruh.
8. Adapun membawa jenazah di atas kereta spesifik atau mobil ambulance, lantas orang-orang yang mengantarnya juga memakai mobil, maka perihal ini juga tidak disyari’atkan, karena ini adalah kebiasaan orang-orang kafir, serta menghalau nilai-nilai yang terdapat di dalam pengantaran jenazah yaitu mengingat-ingat akhirat, terlebih kembali karena perihal itu menjadi penyebab terkuat berkurangnya pengantar jenazah dan hilang kesempatan orang-orang yang menghendaki mendapatkan pahala. (Kecuali di dalam kondisi darurat maka boleh memakai mobil).
9. Berdiri untuk menghormati jenazah hukumnya mansukh (dihapuskan), oleh karena itu tidak boleh kembali diamalkan.
10. Dianjurkan bagi yang membawa jenazah agar berwudhu, tapi ini tidak wajib.

Artikel Terkait
Tata Cara Memandikan Jenazah & Cara Memandikan Jenazah

Paket Tour Korea

Paket tour Korea – Tur Korea telah menjadi konsentrasi paling utama dari paket tour korea termurah dan terpercaya, khusunya spesialis layanan guide serta private...
Coughter
1 min read

Papan Bunga Gayungan Surabaya

Mencari Toko Bunga Papan Surabaya Daerah Gayungan? 3 Toko Bunga Terbaik Ini Bisa Jadi Referensi! Siapa, sih, yang tidak tahu dengan Kota Surabaya? Kota...
Coughter
1 min read

Dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke 74, pihak Casio Indonesia mengadakan sebuah kompetisi desain strap jam tangan Casio. Kompetisi yang diberi...
Coughter
1 min read

Leave a Reply