Review Anime Kriminal Dibaluti Dengan Misteri Babylon

Sebenarnya saya tidak terlalu suka cerita mystery-crime, kenapa? Karena saya yakin jika menarik saya tak bisa berhenti. 3 episode pertama bisa dibilang episode premiere, seperti Vinland Saga, 3 episode premiere tersebut ditayangkan secara ekslusif di Amazon Prime. Dan hasilnya sangat memuaskan, 3-episode-rules atau premiere episode dengan presentasi yang sangat bagus.

Premisnya cukup klise diawal, saya kira bakal mengusung cerita misteri kriminal biasa yang berorientasi di kasusnya dengan memberi clue by clue serta dibumbui dengan mistery kemudian menghasilkan konklusi dan akhirnya kasus terpecahkan; ketika Seizaki dan Fumio muncul dengan segala ideologi (omong kosong) tentang keadilan-nya dan menangani kasus bunuh diri Inaba saya kira akan berorientasi dikasus tersebut dan muncul sub-kasus yang lain yang berhubungan dengan ‘bad goverment’ serta dibalut dan dieksekusi dengan gaya cerita mystery. Tapi ternyata saya salah, kita diarahkan kearah situ tapi tujuannya lain.

Kematian Inaba dan Fumiko adalah alat utama untuk ‘misleading’ tersebut. Awalnya saya berspekulasi bahwa Kematian Fumio itu dia dibunuh di lift, karena lift-nya keatas dan turun lagi, ‘bagaimana membunuhnya’ itu yang sempat saya fikirkan, atau yang yang saya kira ingin mereka tunjukan. Tapi semua spekulasi saya musnah di episode 2 dan 3.

Saya tidak menyangka bahwa 3 wanita tersebut adalah wanita yang sama yang bernama Magase Ai, tetapi yang jelas semua yang bertemu dengannya berakhir dengan keinginan bunuh diri dengan katalis sebuah obat. Magase Ai memberikan analogi yang begitu unik soal persepsinya tentang standar moral dalam interogasi di episode 2. And yeah, that good screenplay to show. Kutipan dibawah sedikit menggambarkan karakter Magase Ai.

Episode 2 sendiri merupakan episode paling menarik di Babylon, gaya naratifnya itu saya suka banget, jadi keinget film legendaris “The Usual Suspects (1995)”. Dimana sang saksi Hiramasu Eriko (Magase Ai), diinterogasi didalam ruangan, kemudian setiap perkataannya divisualisasikan menjadi sebuah scene tersendiri. Atau mungkin di episode 2 ini bisa disebut ‘non-linear’ storytelling, salah satu senjata ampuh untuk menciptakan twist dalam cerita. And Seizaki is totally fucked-up here; interogasi tersebut tak menghasilkan sebuah konklusi apapun, namun malah menjadikan Seizaki emosi.

Kemudian di episode 3 disinilah dipaparkan premise cerita sesungguhnya setelah misdirect premise diawal, yaitu konspirasi pemilihan “zona baru” otonom yang didirikan di Tokyo barat. Dimana kematian bisa diterima dan diakui, guna mencapai tujuan tersebut dibuatlah konspirasi pilkada dan pembuatan obat terlarang.

Dan yang akan menjadi rel utama dalam cerita ini adalah persoalan persepsi manusia tentang standar moral ataupun makna ‘keadilan’ yang mereka yakini dalam spektrum hitam dan putih. Yang kedua persepsi tersebut akan direpresentasikan oleh Seizaki yang memegang teguh makna keadilan dalam spektrum warna putih, kemudian Magase Ai sebagai kompetitor yang datang dengan standar moral/makna keadilan yang berbeda.

Kalian bisa melihat seluruh gambaran cerita di episode 3 ini, jujur aja saya gak nyangka kalau 3 wanita tersebut adalah orang yang sama yang bernama Magase Ai. Sebenernya saya mengharapkan crime-thriller yang kuat khas film taun 95’an dimana banyak film crime-thriller yang bagus, namun meski problematika-nya Babylon itu fiction-ish banget tapi tetap membuat saya sangat tertarik untuk mengikutunya. Bagi para Team Batch anime misteri semacam ini adalah serial yang paling ditunggu karena kalau masih ongoing cuma buat penasaran saja.